Selama ini, Saw telah terbukti sebagai salah satu film horror yang
cukup sukses di pasaran. Dengan memperlihatkan psikopat yang sadis
dengan adegan-adegan yang menyeramkan, film Saw berhasil memikat para
penggemar film horror. Alasan tersebut mungkin yang membuat Zombie
Studio dan Konami berminat untuk mengangkat Saw untuk dijadikan video
games.
Yang menjadi masalah, selama ini, sangat jarang sebuah game yang
diangkat dari sebuah film yang sukses, juga mengalami kesuksesan yang
sama dengan filmnya. Belum lagi fakta bahwa video games telah memiliki
seri horror andalan tersendiri, mulai dari Resident Evil series, Silent
Hill series, Fear series, dan bahkan “sci-fi horror” seperti Dead Space.
Hal ini yang menjadikan banyak pihak sedikit ragu akan Saw: The Video
Game ini.
Berbeda dengan yang ada di dalam film, di dalam game, tentu saja
tidak cukup hanya menawarkan adegan-adegan sadis untuk membuat sebuah
game horror yang baik, walaupun tidak dapat dipungkiri hal tersebut juga
menambah nilai tersendiri. Sebuah game horror yang baik juga harus
dapat membuat gamer yang memainkan game tersebut merasakan apa yang
dirasakan oleh karakter yang mereka mainkan, dengan gameplay dan
storyline yang mendukung. Yang menjadi pertanyaan, apakah Saw: The Video
Game ini dapat menawarkan semua itu?
Storyline:
Saw: The Video Game dapat dikatakan sebuah sekuel dari film
pertamanya dan merupakan prekuel dari Saw II. Mengambil setting waktu
diantara kedua film tersebut, dalam game ini kita akan memerankan
seorang Detektif bernama Tapp. Apabila kalian merupakan penggemar film
Saw tentu akan ingat dengan karakter ini dari film Saw pertama, yang
diperankan oleh Danny Glover. Pada akhir film tersebut dikisahkan bahwa
Detektif Tapp ditembak di bagian dadanya dan diasumsikan telah tewas.
Dan walaupun di beberapa seri diperlihatkan acara penguburan Detektif
Tapp yang mengkonfirmasi kematiannya, dalam game ini, Detektif Tapp
masih hidup dan masih terobsesi mengejar Jigsaw yang telah membunuh
parternya sekaligus menghancurkan hidupnya. Obsesinya untuk menangkap
Jigsaw telah membuatnya mengacuhkan keluarganya hingga bercerai dengan
istrinya, membuat jiwanya sedikit kacau.

Akan tetapi, alih-alih menangkap Jigsaw, Detektif Tapp justru
terperangkap oleh musuh abadinya tersebut. Saat tersadar, Detektif Tapp
telah berada di sebuah bekas rumah sakit jiwa yang dikontrol oleh Jigsaw
sendiri. Detektif Tapp menjadi salah satu korban yang ditangkap oleh
psikopat tersebut. Begitu dia membuka mata, dirinya langsung sadar bahwa
di kepalanya telah terpasang sebuah helm jebakan, dimana dia harus
segera melepaskan helm tersebut sebelum kepalanya dipecahkan oleh helm
tersebut. Tidak beberapa lama kemudian, Detektif Tapp sadar bahwa bukan
hanya dia saja yang ditangkap oleh Jigsaw. Sang psikopat itu sendiri
mengaku bahwa dia tidak pernah membunuh siapa pun, dia hanya menawarkan
permainan dengan berbagai pilihan untuk menyelesaikan permainan
tersebut, walaupun pilihan-pilhan dalam permainan tersebut dapat
mengakibatkan korbannya melakukan bunuh diri, mutilasi maupun terbunuh
oleh permainan.

Salah satu hal yang bagus dalam game ini adalah lisensinya. Hampir
semua apa yang ada dalam game ini sama dengan yang terdapat dalam
filmnya. Gamer akan melihat Jigsaw melalui TV yang tersebar dalam game
ini sambil mengejek serta menjelaskan alasan-alasan mengapa dia
menangkap serta menjebak Detektif Tapp. Selama mengelilingi area-area
dalam game ini, gamer akan bertemu dengan korban-korban lain yang juga
ditangkap dan dijebak oleh Jigsaw. Sebagian dari korban-korban tersebut
dapat bekerja sama dengan Detektif Tapp untuk meloloskan diri dari rumah
sakit jiwa tersebut, sementara kita akan melihat sebagian besar korban
harus tewas dengan tragis oleh jebakan-jebakan permainan Jigsaw.


Storyline dalam game ini dikisahkan cukup baik dan jelas, dengan
lisensi yang diberikan, Zombie Studio serta Konami cukup sukses
mengadaptasi Saw ke dalam video game. Cutscene-cutscene yang ditampilkan
dapat membuat gamer seakan menonton film Saw itu sendiri, begitu juga
adegan-adegan yang memperlihatkan ejekan-ejekan Jigsaw kepada Detektif
Tapp melalui TV sama seperti adegan dalam filmnya.
Gameplay:
Salah satu hal yang diandalkan dari gameplay Saw: The Video Game
adalah Puzzlenya. Sama seperti dalam filmnya, Detektif Tapp harus
berusaha memecahkan puzzle-puzzle yang berkaitan dengan untuk
menyelamatkan nyawanya. Mulai dari puzzle yang mudah dipecahkan hingga
puzzle yang membuat gamer harus melakukan “restrat game” hingga berulang
kali, mulai dari mengunlock pintu, menghindari jebakan serta lain-lain.
Puzzle ini sendiri langsung ada pada saat permainan baru saja dimulai,
dimana gamer harus berusaha melepaskan helm yang dipakaikan Jigsaw di
kepala kita sebelum waktu habis, puzzle pertama ini sudah dapat membuat
gamer mengulang beberapa kali sebelum berhasil menyelesaikannya.
Berikutnya gamer juga harus membuka pintu dengan memasukan nomer
kombinasi yang terdapat dalam ruangan tersebut, nomer itu sendiri dapat
diperoleh dengan sedikit trik. Beberapa puzzle dalam game ini dapat
dikategorikan sebagai mini games.

Tidak beberapa lama, gamer akan menemukan seorang korban lain yang
juga ditangkap oleh si Psikopat. Dan gamer harus berusaha bersama-sama
untuk membuka pintu yang terkunci dan melanjutkan perjalanan. Dalam
perjalanan, Detektif Tapp juga harus berusaha memecahkan puzzle bukan
untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga untuk menyelamatkan para
korban-korban lain yang juga ditangkap oleh Jigsaw.
Puzzle-puzzle yang ditawarkan dalam Saw: The Video Game ini cukup
bervariasi dan menarik, dengan diiringi komentar-komentar dari Jigsaw
saat kita berusaha memecahkan puzzle cukup menambah rasa jengkel kita
terhadap Psikopat sadis tersebut.
Apabila sebagian dari korban-korban yang ditangkap harus kita bantu
untuk membebaskan diri, kita juga harus menghindari dan bahkan
menghabisi korban-korban lainnya, hal ini karena Jigsaw telah
memberitahukan pada mereka bahwa kunci untuk membebaskan diri mereka
tertanam dalam tubuh kita, oleh karena itu dapat ditebak, mereka akan
melakukan segala cara untuk mengambil kunci tersebut, walaupun harus
membunuh dan memutilasi Detektif Tapp.
Tentu saja Detektif Tapp tidak akan menyerah begitu saja, kita harus
melakukan segala cara untuk melawan mereka, sayangnya, combat dalam Saw:
The Video Game berbeda halnya dengan puzzle-puzzlenya yang menarik,
combat dalam game ini tidak sebaik puzzlenya, bahkan dapat dapat
dikatakan cukup buruk bagi sebuah “3rd person game”. Dalam game ini
combat didasarkan oleh tiga hal, yaitu “heavy attack”, “light attack”
dan “block”. Apabila kita berhasil melakuakan “block” dengan tepat –hal
yang cukup sulit dilakukan -, kita dapat melakukan “counter”.

Dalam game ini, Detektif Tapp dapat menggunakan berbagai item yang
ada untuk dipakai sebagai senjata, mulai dari tongkat baseball, pipa
besi dan lain-lainnya. Sepertinya cukup menarik, namun yang membuat
combat dalam game ini buruk adalah, pada saat kiat melakuakan combat
akan terasa sangat lambat, baik heavy mapun light attack terasa pelan.
Sementara combat dalam Saw: The Video Game ini artinya, siapa yang
berhasil lebih dulu menyerang lawan adalah pemenang. Oleh karena itu
sering kali kita harus mengulang permainan karena musuh berhasil
menyerang kita terlebih dahulu.
Untuk mengahabisi musuh, kita tidak hanya dapat melakukan combat. Yang
menarik kita juga dapat membuat beberapa item, seperti bom maupun
jebakan untuk musuh-musuh kita. Sayangnya, jebakan-jebakan tersebut
kurang berguna, karena tidak adanya pilihan untuk melewati jebakan yang
kita buat sendiri, Detektif Tapp seringkali terperangkap sendiri.
Kamera dalam Saw: The Video Game ini mengambil sudut pandang yang
mirip dengan yang ada dalam filmnya, dimana gamer akan merasakan suasana
mencekam yang dialamai oleh Detektif Tapp melalui “3rd person view”.
Saw: The Video Game sendiri menawarkan dua buah ending yang berbeda,
setelah mencoba mendapatkan kedua ending tersebut, rasanya tidak terlalu
banyak alasan lagi untuk memainkan game ini, karena gamer sudah akan
mengetahui trik-trik untuk memecahkan puzzlenya sementara combat dalam
game ini tidak terlalu menarik, kecuali untuk menikmati suasana horror
yang harus diakui cukup berhasil ditampilkan oleh game ini.
Grafis:
Grafis dalam Saw: The Video Game cukup baik, walaupun tidak seiindah
Resident Evil 5, namun detail rumah sakit jiwa tersebut tampak cukup
realistis, efek-efek pecahan kaca dan efek ledakan tampak cukup baik
dengan dukungan sedikit PhysX, walaupun efek PhysX dalam game ini tidak
sebanyak dalam Batman Arkham Asylum.
Detail karakter juga terlihat cukup baik, walaupun terkadang wajah dari
Detektif Tapp tampak sedikit kurang mirip dengan karakter aslinya, serta
beberapa animasi, terutama pada saat combat tampak sedikit kaku,
demikian juga dengan beberapa objek yang tampak kurang halus.
Saw: The Video Game sendiri menggunakan Unreal Engine, dan detail
dari lingkungan sekeliling cukup dapat berhasil menghadirkan suasana
menyeramkan di monitor gamer. Dengan tes menggunakan Core 2 Quad @
2.66Ghz serta single GTX 275, dapat diperoleh 60 FPS dengan menggunakan
highest setting @ 1920×1080.
Sound:
Salah satu hal yang paling baik dalam game ini adalah Soundnya.
Soundtrack-soundtrack yang mengiringi Detektif Tapp selama permainan
cukup berhasil menambah susana menyeramkan yang telah ada, begitu juga
dengan suara-suara ledakan dan pecahan kaca yang terdengar cukup
realistis.
Voice actor dalam game ini juga cukup baik, terutama suara dari
Jigsaw yang diisi oleh Tobin Bell, yang merupakan actor Jigsaw sendiri
dalam film Saw.
Penutup:
Saw: The Video Game sepertinya tidak akan meraih kesuksesan yang sama
seperti Filmnya sendiri, suasana menyeramkan yang ditawarkan hanya
dapat dirasakan melalui detail sekeliling, sistem combat juga tidak
terlalu baik. Namun puzzle-puzzle yang menarik, ditambah dengan lisensi
yang diperoleh Zombie Studios bersama dengan Konami untuk menghadirkan
detail film Saw dalam game ini membuat game ini patut dimainkan oleh
para penggemar “survival horror”, terutama penggemar film Saw.
Minimum System Requirements:
- Processor : Pentium 4 @ 2.4 GHz/AMD Athlon 2.0+ GHz
- Video Card: NVIDIA GeForce 6600/ATI Radeon X1300
- Memory : 1 GB
- Hard Disk: 12 GB Free
- Operating System: OS: Windows XP/Vista
- Sound Card: DirectX Compatible
- Direct X: 9.0c
- Gameplay: Keyboard and Mouse
- Installation: DVD Rom Drive
Recommended System Requirements:
- Processor : Intel Core 2 Duo/AMD Athlon X2
- Video Card: NVIDIA GeForce 7600/ATI Radeon X1900
- Memory : 2 GB
- Hard Disk: 12 GB Free
- Operating System: Windows XP/Vista
- Sound Card: DirectX Compatible
- Direct X: 9.0c or 10
- Gameplay: Keyboard and Mouse
- Installation: DVD Rom Drive
Score:
- Storyline : 8 ( dengan lisensi yang diperoleh
Zombie Studios berhasil mengkisahkan Saw: The Video Game dengan cerita
lanjutan dari Saw pertama dengan menarik )
- Gameplay : 7 ( Puzzle yang menarik dan variatif, sayang tidak diiringi dengan sistem combat yang baik )
- Grafis : 7 ( detail lingkungan tampak cukup indah, sayang beberapa objek dan karakter tampak sedikit detail )
- Sound : 8.5 ( musik dan voice actor terdengar cukup pas, terutama voice actor dari Jigsaw )
- Replay Value: 6 ( setelah membuka 2 ending yang berbeda, tidak terlalu banyak lagi yang ditawarkan game ini )